Aktivitas Bank Sampah Tak Sama dengan Memulung

SEMARANG – Keberadaan bank sampah diharapkan mampu membantu mengatasi persoalan sampah. Tak mengherankan jika bank sampah mulai banyak bermunculan. Namun, apakah aktivitas di bank sampah sama dengan memulung?
Kepala Seksi Operasional Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang Adi Jatmiko menyampaikan, bank sampah tak hanya bertujuan menampung dan memberdayakan sampah agar bernilai ekonomi. Lebih dari itu, bank sampah diharapkan mampu membentuk karakter masyarakat untuk terus menjaga lingkungan yang sehat, rapi, dan bersih.
“Adanya bank sampah diharapkan dapat membuat  masyarakat bergerak bersama, untuk membenahi kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi lebih tertib. Selain itu, menjadikan sampah tidak sekadar buangan tapi bisa diolah kembali,” ujarnya pada Rapat Persiapan Pelaksanaan Kongres Sampah, di Kantor Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, baru-baru ini.
Ditambahkan, bank sampah yang kebanyakan melibatkan para ibu, memberikan pelajaran agar mereka menjadi contoh di keluarganya, terutama anak, agar sejak dini menjaga lingkungan. Salah satunya, dengan tidak membuang sampah sembarangan, serta berupaya mengolahnya dengan benar.
Karenanya, pria yang akrab disapa Miko ini menegaskan agar aktivitas di bank sampah tak disamakan dengan memulung. Sebab, memulung lebih komersial dan mementingkan nilai ekonomi, di mana sampah anorganik dipandang sebagai pundi-pundi uang.
Kata bank pada bank sampah, imbuhnya, jangan diidentikkan dengan uang, namun lebih pada manajemen sampah. Mulai memilah sampah dengan benar, hingga mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
Diakui, uang yang didapat dari bank sampah memang tidak seberapa. Untuk itu sebaiknya hasil bank sampah jangan dijadikan mata pencarian. Hasil dari bank sampah dapat dialokasikan untuk  kegiatan warga yang sarat kebersamaan, misalnya untuk kegiatan sosial, biaya pemeliharaan fasilitas kampung seperti poskamling, maupun untuk piknik bersama.
Meski begitu, Municipal Solid Waste Stakeholder Relations and Management PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk Ita Sadono justru mengimbau agar pengelolaan bank sampah jangan kalah dengan pemulung. Bahkan jika perlu pengelolanya berguru kepada para pemulung.
“Berguru dalam arti cara memilah sampah yang benar. Para pemulung begitu andal memilah sampah mana yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan yang dapat didaur ulang,” ucapnya.
Apa yang disampaikan bukan tanpa alasan. Dengan memilah sampah yang baik dan tepat, dapat membantu proses daur ulang. Selanjutnya, sampah anorganik maupun organik dapat dimanfaatkan. Sampah anorganik bisa diolah menjadi produk kerajinan. Sampah organik pun bisa dijadikan pupuk atau maggot. Dengan begitu masyarakat akan terpacu untuk memilah dan mengelola sampahnya.
“Tak ada sampah yang tidak dapat didaur ulang. Sampah organik bisa jadi pupuk atau magoot sedangkan sampah anorganik bisa menjadi berbagai kerajinan tangan,” imbuh Ita. (Ic/ Ul, Diskominfo Jateng)
By | 2019-10-04T15:56:42+00:00 October 2nd, 2019|Berita|0 Comments

Leave A Comment