Calon Siswa Dituntut Cermat Pilih Jalur

SEMARANG – Hari kedua pelaksanaan verifikasi untuk siswa SMA di Kota Semarang, berlangsung lancar. Berbeda dengan hari sebelumnya, siswa yang hadir Selasa (25/6/2019) ini tidak terlalu banyak. Seperti di SMAN 1 dan SMAN 10 Semarang, yang nyaris tak terlihat antrean panjang.

Di SMAN 1 Semarang, sekitar pukul 10.15WIB, dari beberapa loket yang disediakan, hanya beberapa yang terisi. Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi Listyaningsih menyampaikan, sebagian besar siswa sudah melakukan verifikasi pada Senin (24/6/2019). Sehingga, suasana pada hari kedua ini relatif sepi.

“Hari pertama kemarin ada 525 siswa yang terverifikasi. Sementara kuota yang tersedia di sekolah ini 432 siswa. Tapi, mereka yang terverifikasi juga belum tentu memilih SMAN 1,” bebernya, saat menerima kunjungan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah Jumeri, Selasa (25/6/2019).

Hal senada juga disampaikan Kepala SMKN 10 Semarang, Sukirna. Dari kuota 323 siswa, pihaknya sudah melakukan verifikasi terhadap lebih dari 400 siswa pada hari pertama pengambilan token. Untuk hari kedua, hingga tengah hari tercatat sekitar 90-an siswa yang melakukan verifikasi. Namun, dari banyaknya siswa yang melakukan verifikasi, ternyata hanya sedikit yang memilih jalur prestasi, yakni hanya lima orang.

Menurutnya, kebanyakan calon siswa khawatir tidak diterima karena peluangnya dianggap lebih kecil ketimbang jalur zonasi, yakni 20 persen untuk dalam zona. Jadi, mereka tidak percaya diri bersaing dalam zona pada jalur prestasi dengan hanya mengandalkan nilai Ujian Nasional.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Disdikbud Jateng Jumeri menekankan, jalur prestasi diperuntukkan mereka yang berprestasi di bidang akademis maupun nonakademis. Jadi, calon siswa yang memiliki nilai UN yang tinggi, meski tidak memiliki piagam penghargaan, juga bisa mendaftar pada jalur prestasi, baik di dalam zona maupun luar zona.

Sebaliknya, jika dirasa persaingan di jalur prestasi cukup ketat, sementara masih ada peluang pada jalur zonasi, mereka bisa mengubah pilihannya ke jalur zonasi sebelum pendaftaran ditutup. Namun, saat verifikasi mereka memilih pada jalur zonasi dan prestasi.

Dia menunjuk contoh, di SMAN 10 Semarang, di mana masih tercatat lima anak yang melakukan verifikasi untuk jalur prestasi. Padahal kuotanya lebih dari 20 anak. Artinya, jika nantinya hanya ada lima anak yang mendaftar melalui jalur prestasi, ada 15 kuota yang belum terisi. Artinya, nilai tidak terlalu besarpun akan bisa diterima kalau dia beruntung memilih jalur yang tepat.

“Anak-anak peserta didik, anda memiliki peluang memilih jalur prestasi di samping jalur zonasi. Walaupun sebenarnya sama untuk sekolah yang tidak terlalu berat. Tapi untuk sekolah yang di dalam kota, harusnya menganalisis. Dilihat peluangnya pada jalur prestasi berapa persen, zonasi berapa peluangnya. Kalau memang sekiranya di jalur zonasi tidak aman, bisa ditarik di jalur prestasi untuk bisa mengambil peluang. Tapi status verifikasinya harus memilih jalur prestasi dan zonasi,” tegasnya.

Jumeri juga mengingatkan agar saat pendaftaran online nanti, orang tua maupun siswa tidak perlu lagi ke sekolah. Mereka bisa mendaftar melalui gadget, laptop, komputer di rumahnya.

“Tapi, kalau tidak tahu caranya, bisa datang ke sekolah terdekat atau Kantor Cabang Disdikbud,” tandasnya.

Sementara itu, Tengku, warga Jalan Kusumawardani, sengaja memilih jalur prestasi di SMAN 1 Semarang untuk anaknya, Frederica Angelina yang memiliki nilai UN 38,9. Meski tempat tinggalnya terhitung dekat dari sekolah tersebut, tapi dia optimistis anaknya diterima melalui jalur prestasi. (Ul, Diskominfo Jateng)




By | 2019-07-10T10:33:39+00:00 June 25th, 2019|Berita|0 Comments

Leave A Comment