Si Terpa Daya Jiwa RSJD Dr RM Soedjarwadi, Nominator UNPS Award 2019

SEMARANG – Sistem Terapi Paripurna Melalui Pemberdayaan Orang dengan Gangguan Jiwa (Si Terpa Daya Jiwa) yang dimiliki RSJD Dr RM Soedjarwadi Klaten menjadi nominator United Nations Public Service Award 2019, akhir Juli 2019 lalu di Baku, Azerbaijan.

Under-Secretary General of DESA Liu Zhenmin menyerahkan penghargaan tersebut kepada Menteri PANRB sekaligus sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia, Syafruddin. Penganugerahan itu menjadi bagian acara United Nations Public Service Forum dengan tema Achieving the Sustainable Development Goals through Effective Delivery of Services, Innovative Transformation and Accountable Institutions yang dibuka oleh Wakil Presiden Azerbaijan Mehriban Aliyeva. Sebelumnya pada 2018, Si Terpa Daya Jiwa juga menerima penghargaan Top 40 Inovasi Pelayanan Publik dari Kemen PANRB.

Direktur RSJD Dr RM Soedjarwadi, dokter Tri Kuncoro menyatakan, program inovasi sejak 2016 terus dikembangkan pihaknya. Karena, sejalan dengan program RS tanpa dinding yang digagas Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

“Si Terpa Daya Jiwa ini, pasien yang sudah berobat, kita ikuti di rumah, kita ajarkan keterampilan, ajarkan keluarga mendampingi, dan membuatkan pojok produksi. Mereka kemudian kita ajari membuat lampu hias dan hasil karya lainnya. Hasil karya para rehabilitant ini kita pajang di galeri yang ada di RS. Kita juga pasarkan melalui shopee dan bukalapak,” katanya didampingi Anik Kristisuhandari, dari Unit Instalasi Kesehatan Jiwa Masyarakat, Rabu (7/8/2019).

Dari upaya itu, imbuh Tri Kuncoro, efeknya, pasien tidak didiskriminasi di masyarakat. Sehingga, bisa mengembalikan fungsi sosial, meningkatkan derajat, martabat sosial dan ekonomi, sekaligus mengurangi kumat, resiko terjadinya perasaan gelisah kembali dan justru menghasilkan barang produktif.

Dijelaskan, Si Terpa Daya Jiwa merupakan inovasi pelayanan publik yang tidak hanya mengobati pasien gangguan jiwa dengan memberikan rehabilitasi dan fasilitas psikososial, namun juga memberikan pelatihan keterampilan bagi pasien, pendampingan, dan menyalurkan hasil produksinya agar mempunyai nilai ekonomi untuk kemandirian pasien.

“Inovasi ini mengubah paradigma masyarakat di mana pasien gangguan jiwa tidak hanya membutuhkan perawatan di rumah sakit hingga sembuh, melainkan perlu intervensi dengan memberikan keterampilan dengan nilai ekonomi tinggi. Sehingga mereka lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” tandasnya. (Humas Jateng)

By | 2019-08-09T15:03:02+00:00 August 8th, 2019|Berita|0 Comments

Leave A Comment