SEMARANG – Dua orang siswa mengeluhkan banyaknya tugas selama belajar di rumah, sebagai upaya social distancing (pembatasan interaksi) untuk mencegah meluasnya Covid-19. Mereka pun mengadu kepada Gubernur Jawa Tengah melalui direct message (DM) ke akun instagram Ganjar Pranowo.
Pemerintah sebelumnya memang telah menetapkan belajar di rumah selama 14 hari bagi sekolah-sekolah dalam merespons mewabahnya Covid-19. Akibatnya, guru memberikan tugas sebagai bentuk aktif kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan menggunakan sistem belajar dalam jaringan (daring). Termasuk di antaranya memanfaatkan aplikasi percakapan WhatsApp (WA).
Namun hal itu justru dikeluhkan siswa. Seperti Fitria, siswa SMKN  di Semarang, dan Arfan dari SMA swasta di Semarang. Keduanya keberatan dengan tugas yang diberikan guru, karena dirasa merepotkan, terutama jika tugas itu menuntut mereka harus keluar rumah.
Ganjar pun merespons DM mereka dengan memanggil ke rumah dinasnya (Puri Gedeh), Gajahmungkur, Kota Semarang, Senin (23/3/2020) siang. Turut pula seorang guru SMAN 5 Semarang, Lucia Yuyun Dian Susanti.
“Dua anak DM ke saya, cerita tugasnya banyak. Banyak tugas ngelu (pusing). Minta saya datang ke sekolah,” buka Ganjar di depan siswa dan guru itu.
Arfan membeberkan beberapa tugas sekolah yang memberatkannya. Salah satunya, tugas kelompok membuat prakarya menyablon kaos. Tugas itu, menurutnya, membuat siswa harus keluar rumah. Padahal saat ini pemerintah sedang memberlakukan kebijakan agar warga berada di rumah saja.
“Sampai sat ini belum saya kerjakan tugasnya. Kesehatan lebih penting,” ungkap Arfan.
Tak beda jauh disampaikan Fitria. Selama masa harus belajar di rumah ini, guru telah memberinya tugas sekolah yang tidak sedikit. Terutama seminggu pertama di rumah. Bahkan dia menilai tugas berdatangan saat tugas sebelumnya belum selesai.
“Saya suruh kerjakan tugas. Tugas online harus selesai dua hari. Tugas buku seminggu. Tugas belum selesai, ditambah.  Suruh ngerjain dulu,” beber Fitria.
Perwakilan guru, Yuyun menjelaskan jika selama masa belajar di rumah, dia berupaya agar siswa tetap bisa mengikuti KBM meski via daring. Biasanya dia memanfaatkan grup WA untuk memberikan materi pelajaran.
“Kami mulanya berupaya memahami dulu arti 14 hari belajar di rumah. Ternyata 14 hari itu untuk memutus mata rantai penularan Corona,” kata guru pengampu mata pelajaran bahasa daerah ini.
Selama masa belajar di rumah, dia meminta siswa mengikuti sistem belajar. Bahkan jika ada siswa yang tidak bisa mengikuti, dipersilakan izin.
“Selama ada komunikasi, pasti saya memahami siswa,” ungkap Yuyun.
Terkait hal tersebut, Gubernur Ganjar meminta para guru agar lebih kreatif dalam memberikan materi pelajaran ke siswa selama masa belajar di rumah ini.
“Tidak mati langkah. Sinyal seadanya. Guru harus kreatif. Di sistem daring kita imbau,  agar guru jangan mati gaya,” imbaunya. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)