SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memuji adanya relawan psikososial Provinsi Jawa Tengah yang turut ambil bagian membantu warga terdampak korban gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar). Mereka masuk dalam 15 orang yang masuk dalam relawan yang akan dikirim ke Sulbar, hari ini.
“Relawan psikososial, itu amat keren. Sehingga bisa membantu mereka (warga terdampak) membikin senang, membantu mereka tetap bisa tabah menjalani kondisi ini,” kata Ganjar usai pelepasan relawan di halaman kantornya, di Semarang, Rabu (20/1/2020).
Seorang relawan psikososial yang turut serta, Joko Supriyanto, mengatakan, dirinya akan turun ke lokasi gempa Sulbar bersama dua orang relawan psikososial lainnya. Dia berasal dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) BPBD Jateng, dan dua relawan psikosial lain berasal dari PMI, dan Dinas Kesehatan.
“Tugas utama kita membuat pengungsi nyaman. Ini kan masalah psikologis, dan juga masalah sosial. Sering kali, kita fokus mengedepankan penanganan fisik, pembangunan fisik. Kurang mendampingi mereka secara psikologis,” beber Joko.
Sesuai pesan dari Ganjar, kata dia, di antara yang perlu diperhatikan adalah anak-anak, kelompok rentan, lanjut usia, dan perempuan, adalah kalangan yang perlu mendapatkan perhatian secara psikologis.
Tim relawan psikososial sendiri belum tahu akan ditempatkan di titik mana. Namun sepengetahuannya dari sejumlah media massa, ada beberapa titik pengungsian korban gempa. Pihaknya akan masuk di titik pengungsian sesuai arahan di lokasi pengungsian.
Yang jelas, psikososial akan menolong sistem di pengungsian, seperti halnya menata pengungsian yang ramah anak, menyediakan media bermain anak-anak. Tidak hanya itu, pihaknya juga akan berkomunikasi dengan jaringan tim di lokasi gempa, untuk mengetahui di titik mana saja relawan psikosial Jateng akan ditempatkan.
Dia menggambarkan sekilas apa saja yang dikerjakan relawan psikososial. Di antaranya, lanjut Joko, relawan psikososial akan bekerja sama dengan tokoh agama, tokoh pendidik atau guru, dan tokoh lain di tempat pengungsian.
“Mereka yang bisa ajak untuk menangani psikologi pengungsi. Kalau diperlukan, bisa mengadakan semacam upgrade atau briefing penanganan psikososial,” tambahnya.
Joko menambahkan, relawan psikosial bekerja sesuai sistem yang baik supaya pengungsi bisa nyaman di tempat pengungsian. Termasuk agar pengungsi tidak takut dengan isu hoaks yang bertebaran di kalangan masyarakat. “Pengungsi supaya tenang hatinya. Info adanya gempa susulan, tsunami. Nah seperti itu yang harus kita kelola,” kata dia.
Relawan psikosial juga bisa memberikan rujukan kepada pengungsi yang depresi dan stres agar mendapatkan penanganan trauma healing dari psikolog atau psikiater. (Ak, Ul/ Diskominfo Jateng)