SEMARANG – Siapa bilang, menjadi istri pejabat harus lekat dengan barang branded? Bagi Siti Atikoh Supriyanti, istri Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, hal demikian tak berlaku. Bahkan, ia tidak malu mengenakan kain hijab seharga Rp10 ribu, produksi lokal.

 

“Saya tidak memiliki koleksi tas branded (ternama), dan tidak tahu merek-merek itu. Namun kalau produk lokal, saya dan Mas Ganjar sudah seperti manekin berjalan. Itu bagian promosi produk warga. Saya sudah cukup percaya diri dengan apa yang saya pakai, saya percaya orang melihat saya dari bagaimana saya bersikap, menghargai orang lain, dan apa yang ada di kepala kita (pemikiran),” ucap Atikoh, saat menjadi narasumber dalam perbincangan dengan Koran Jakarta, Kamis (23/7/2020).

 

Bagi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah ini, sikap sederhana seperti tersebut sudah tertanam sejak awal pernikahannya dengan Ganjar Pranowo. Ia mengaku, memulai pernikahan tidak bermewah-mewah, bahkan bisa dikatakan merangkak dari bawah.

 

Ketika Ganjar dinobatkan menjadi orang nomor satu di Jateng, sikap sederhana tersebut masih dipelihara. Dengan hal itu, Atikoh percaya, akan menghindarkan keluarganya dari sikap hedonisme.

 

Selain kesederhanaan, Atikoh juga mengembangkan sikap saling menghargai. Hal itu pun diterapkan saat mendampingi Ganjar mengurus pekerjaannya sebagai gubernur, dengan segala kesibukannya. Bahkan Atikoh dan anak semata wayangnya, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, sudah mewakafkan sebagian besar waktunya untuk masyarakat.

 

“Nah untuk menjaga keromantisan hubungan, kami sekeluarga berusaha meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Di situlah kami mengobrol, handphone dimatikan,” paparnya.

 

Selain itu, Atikoh juga rela menjadi lawan “debat” dengan Ganjar, terkait pekerjaan, dengan menempatkan diri sebagai masyarakat. Namun demikian, ia tetap menghargai segala keputusan yang diambil oleh suaminya.

 

“Kalau urusan pekerjaan, saya tidak ikut campur. Tetapi terkadang kami berdiskusi. Saya pun memberikan kritik sebagai masyarakat, tidak hanya mendukung. Namun, untuk pekerjaan tertentu saya menghargai (Ganjar) sebagai hak prerogatif, dan tidak menanyakan lebih jauh,” ungkapnya.

 

Di masa pandemi ini, Atikoh juga tetap menjalankan kesibukannya sebagai kepala organisasi. Meskipun lewat perantaraan telekomunikasi, ia tetap memantau dan berdialog dengan warga. Ia terus berpesan kepada warga Jateng agar tetap menjaga kesehatan. Caranya dengan rajin berolahraga dan makan bergizi, serta menerapkan protokol kesehatan.

 

“Kesannya jadi tidak asyik not touching at all (tidak bersentuhan), namun itu adalah bagian dari menghargai dan menjaga orang lain. Karena, kita tidak tahu apakah kita termasuk yang terpapar (Covid-19) atau tidak,” pungkas Atikoh. (Pd/Ul, Diskominfo Jateng)