REMBANG – Ikan diolah menjadi sup, mungkin sudah pernah Anda rasakan. Tapi bagaiman jika ikan dimasak merica?
Ya, namanya kelo mrico, makanan khas Kabupaten Rembang, yang menjadi suguhan andalan di desa wisata Tasikharjo, Kecamatan Kaliori. Namanya yang asing, mengundang rasa tahu pengunjung, terutama dari luar kota. Seperti apa kelo mrico dan bagaimana rasanya?
Kelo mrico sejenis sup ikan, yamg berisi ikan dukang atau yang biasa dikenal ikan sembilang. Kuahnya kekuningan dengan bumbu rempah yang kuat, sehingga tak terasa amis saat disantap. Bedanya dengan sup lain, penambahan merica yang banyak yang membuat kelo mrico semakin sedap, wangi, dan pedas. Pas untuk hidangan makan siang, dipadukan dengan nasi hangat, sambal, dan gorengan.
Damini (50), perempuan asal Dukuh Wates RT 2 RW 3, Desa Tasikharjo, salah satu pembuatnya. Sambil memraktikkan cara membuatnya, Damini mengungkapkan, bahan menu kelo mrico, adalah merica, ikan dukang segar yang baru ditangkap hari itu, bawang merah, bawang putih, daun jeruk, ketumbar, kunir, kemiri, garam. Bumbu-bumbu itu dihaluskan menggunakan cobek hingga lembut.
Cara mengolahnya sederhana. Ikan dukang dimasak dalam panci dengan air secukupnya hingga mendidih. Kemudian, bumbu halus dimasukkan dan diberi rasa hingga masak. Menurutnya, rasanya yang segar dan pedas, dengan gurih ikan yang masih segar, membuat kelo mrico disukai warga dan para pengunjung.
“Pokoknya kalau nelayan dapat ikan dukang pasti dimasak sayur merica,” ungkapnya sembari memasukkan garam sambil sesekali mencicipi masakannya.
Damini mengungkapkan keistimewaan menu kelo mrico dibanding menu lainnya adalah rasa segarnya yang tiada dua. Aroma mericanya yang pedas menyengat, dipadu dengan cita rasa yang muncul dari rempah-rempah bumbu, seolah memunculkan sensasi santap luar biasa. Hal itu, bagi si penyantap, kian menambah selera makan kelo mrico.
“Pedas tapi ya tergantung selera orang juga,” ungkapnya diamini kakaknya, Ana (55) yang dari tadi ikut membantu.
Ana menambahkan, baginya kelo mrico adalah makanan yang ngangeni. Dia yang kerap merantau ke Banten untuk bekerja, seringkali rindu dengan menu kelo mrico. Untuk mengobati keinginan menyantap menu warisan, dia memasaknya sendiri.
“Saya kan sering merantau. Merantaunya di Banten. Sering kangen sama menu kelo mrico. Jadi ya buat sendiri, tapi ikannya gak begitu segar. Di sini (Dukuh Wates) mudah cari ikan segar,” jelasnya.
Didin, pengunjung dari Semarang mengaku baru kali pertama menyantap kelo mrico. Bahkan, nama menu itu masih asing di telinganya. Namun, begitu mencicipi, dia merasakan sensasi yang berbeda.
“Pedasnya khas, tapi enak karena ikannya sangat gurih. Tidak berasa amis,” ungkapnya.(Ak/Ul, Diskominfo Jateng)