SEMARANG – Ketua Umum Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah Nawal Nur Arafah Taj Yasin meminta para ibu, sebagai garda terdepan ketahanan keluarga harus kuat dan mampu menjaga serta melindungi keluarga supaya mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Ning Nawal, sapaan akrabnya menjelaskan, selama pandemi Covid-19, masyarakat mempunyai waktu lebih banyak bersama keluarga. Hal itu terkait dengan imbauan pemerintah untuk di rumah saja, kebijakan work from home atau bekerja dari rumah, serta penerapan belajar di rumah bagi pelajar dan mahasiswa.

“Artinya banyak waktu yang bisa digunakan bersama, maka pandai-pandailah memanfaatkan waktu bersama keluarga, menciptakan kegiatan kreatif, inovatif, dan produktif yang bisa saling menguatkan meningkatkan sehingga tidak timbul kebosanan. Disinilah kepiawaian kaum perempuan sangat dibutuhkan untuk menguatkan ketahanan keluarga,” katanya.

Pada Webinar bertema Merawat Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi Selasa (23/6/2020), Ning Nawal menambahkan, berkurang atau hilangnya pendapatan ekonomi keluarga akibat pandemi menjadi beban baru. Kondisi itu berdampak pada kecukupan gizi anak terancam tidak terpenuhi, sehingga beban ibu dalam keluarga makin berat. Maka BKOW harus bersama-sama berkolaborasi untuk membangun ketahanan keluarga di masa pandemi.

Hadir pula sebagai narasumber dalam Webinar, Psikolog Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama Allisa Wahid, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng Retno Sudewi.

Retno Sudewi menjelaskan, beragam upaya dilakukan Pemprov Jateng guna meningkatkan ketahanan keluarga di masa pandemi. Salah satunya program Jogo Tonggo yang meliputi banyak bidang, terutama bidang sosial, ekonomi, kesehatan, hiburan, dan keamanan. Selain itu program pemberdayaan ekonomi keluarga miskin, perempuan rentan dan terdampak Covid-19, serta perluasan program perlindungan sosial bagi keluarga miskin.

“Kantor kami juga membuka layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, baik secara online maupun offline, membuka keluarga dan penguatan rohani atau spiritual, memberikan layanan kesehatan untuk ibu hamil, bayi, balita, dan pasangan usia subur, serta melakukan pendataan dan pemantauan situasi perempuan dan anak rentan terdampak Covid-19,” jelasnya.

Psikolog Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama Allisa Wahid menyebutkan, berbagai tantangan dihadapi masyarakat di masa pandemi, antara lain tekanan psikis pribadi dan keluarga, livehood atau penghidupan ekonomi berkurang, ketidakpastian masa depan, keterbatasan ruang psikologis pribadi akibat berbagi ruang selama masa di rumah saja, kondisi keluarga dan hubungan antaranggota keluarga.

Dijelaskan pula, sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera ibarat sebuah bangunan yang kokoh. Sementara itu, bangunan rumah yang kokoh tergantung dari fondasinya, kalau pondasinya kuat dan dalam maka bangunan rumah semakin kokoh. Demikian pula rumah kondisi keluarga yang tangguh maka fondasi yang paling penting adalah prinsip yang dipegang oleh semua keluarga, yaitu prinsip keadilan, prinsip kesalingan, yakni saling memberi dan menerima, serta prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban.

 

“Begitu juga dengan keluarga. Membangun dan menjaga ketangguhan keluarga itu seharusnya dilakukan sebelum masa pandemi. Kalau sebelumnya keluarga dikelola dengan baik dan kuat maka pandemi ini tidak akan menimbulkan persoalan yang besar. Tetapi kalau sebelumnya pilarnya sudah retak dan rapuh maka apabila terkena gempa bumi akan langsung merobohkan bangunan,” paparnya. (Humas Jateng)