SURAKARTA – Di tengah wabah Covid-19 yang masih mengancam, RSUD dr Moewardi Surakarta terus memproduksi alat pelindung (APD) cover all sendiri. Ditargetkan, hingga akhir bulan ini, total APD yang diproduksi mencapai 5.000 unit.
Kepala Bidang Pelayanan Penunjang RSUD dr Moewardi, Bambang Sugeng Wijonarko menjelaskan, pihaknya mulai memproduksi APD cover all, meliputi baju dan penutup kepala, secara resmi sejak 23 Maret 2020. Produksi APD itu untuk memenuhi kebutuhan di internal rumah sakit.
“Awalnya produksi 200 pieces, rencana untuk sendiri. Sekarang stok gudang ada 1.000 pieces lebih. Rencana bahannya yang sudah siap adalah 5.000 pieces,” kata Sugeng melalui sambungan telepon, Kamis (2/4/2020).
Ditambahkan, hingga kink produksi APD mencapai 3.000 unit. Dia optimistis akhir bulan target 5.000 unit APD dapat tercapai. Setelah itu, jika wabah Covid-19 belum berakhir, mereka akan mencari bahan lagi.
“Tinggal sedikit (sisanya). Kebutuhan APD RSUD Moewardi tercukupi,” beber Bambang.
Pihaknya mengatakan sebenarnya RSUD dr Moewardi ingin membantu sesama dalam memenuhi kebutuhan APD. Namun bahan dasar APD berupa polypropylene spundbound, sulit didapat. Saat awal produksi, bahan masih bisa didapat di dalam kota. Namun sekarang, bahannya langka. Apalagi pihaknya menggunakan kain dengan ketebalan gramasi 50-60 GSM (gram per squared meter).
“Ketebalan standar kan 70 GSM. Kalau di tempat kami kan sumuk. Jadi kami pakai ketebalan 50 GSM,” ujar dia.
Bambang mengungkapkan ide pembuatan APD tersebut berawal dari kesulitannya mencari APD di pabrikan. Sementara, makin bertambahnya pasien corona yang dirujuk di  RSUD Moewardi, membuat kebutuhan APD terus meningkat. Sehingga tenaga medis mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan baju pelindung terhadap penularan virus corona.
“Saat itu sudah berlangsung Covid-19 seminggu. Kita selalu telat terus dapat APD. Kita pesan, telat terus. Harganya dari Rp80 ribu (per unit), jadi Rp150 ribu, naik terus. Barang sering telat, harga meningkat terus,” imbuhnya.
Untuk pengerjaannya, terang Bambang, pihaknya menggandeng pengusaha konveksi. Namun, setelah jadi, pihaknya melakukan pengecekan kualitas (quality control) sesuai persyaratan yang ditentukan. Dengan memproduksi sendiri, tak hanya kendala keterlambatan yang teratasi, tapi biaya produksinya juga lebih murah, yakni hanya Rp35 ribu per unit APD dengan ketebalan 50 GSM.
Disinggung apakah mereka akan memenuhi pesanan produksi dari luar? Bambang mengatakan pihaknya belum bisa memenuhi permintaan.
“Kita gak fokus ke sana (memenuhi permintaan APD dari luar). Selesai ini (berakhirnya wabah Covid-19) juga tidak. Orderan banyak, tapi kita layani teman-teman Solo (RSUD Moewardi), atau internal saja,” tambah dia. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)