REMBANG – Tak lengkap rasanya bila jalan-jalan ke tempat wisata tak membawa buah tangan, atau oleh-oleh. Seperti halnya saat berkunjung ke desa wisata di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.
Salah satu oleh-oleh yang menjadi primadona adalah terasi. Bumbu penyedap masakan yang dibuat dari udang kecil atau rebon yang dilumatkan halus-halus, bisa menjadi pelengkap sambal yang lezat. Apalagi banyak orang yang menggemari sambal.
Salah satu daerah penghasil terasi adalah Dukuh Wates RT 2 RW 3, Desa Tasikharjo. Meski zaman sudah maju dan serba mesin, warga tetap membuat terasi secara tradisional. Seperti yang dilakukan Khoirul Jovid.
Pria kelahiran Dukuh Wates ini memang getol melestarikan pembuatan terasi dengan lumpang dan alu. Hampir puluhan tahun lalu, pembuatan terasi secara tradisional dilakukannya sekeluarga. Keterampilan itu pun didapatnya dari orang tua. Termasuk alu dan lumpangnya berusia puluhan tahun yang diwariskan kepada pria itu.
Berbahan baku udang rebon, Jovid terlihat menyelesaikan proses pembuatan terasi. Udang rebon biasa didapat di sekitar pantai yang bersih di desanya. Sebab, untuk pembuatan terasi, kebersihan dan kualitas bahan menjadi pertimbangan.
“Kebersihan rebonnya harus terjaga. Warga Dukuh Wates ini, biasanya sebelum mengolah terasi, terlebih dulu mencuci udang rebon di laut. Begitu udang sudah bersih, diangkat ke daratan untuk dijemur. Saat penjemuran, udang dibuat kecil-kecil dan tipis. Tujuannya biar cepat kering,” terangnya.
Tahap awal, dia memisahkan kotoran yang ada pada rebon. Seperti plastik, ikan kecil, cumi-cumi kecil, kerang. Sebab, jika tercampur kotoran tersebut, bisa memengaruhi rasa.
“Jadi murni rebon. Ketika sudah kering, sorenya ditumbuk. Seperti ini (ditumbuk dengan alu dan lumpang). Nanti dibuat bulatan, dan difermentasi. Didiamkan semalam, terus paginya dijemur lagi,” jelas Jovid.
Usai dijemur, lanjut dia, sore hari bahan tersebut kembali ditumbuk. Proses dobel itu untuk membedakan terasi di daerahnya dengan yang lain. Tak hanya itu, terasi yang mereka buat juga tanpa campuran pengawet, pewarna, atau lainnya. Jadi warnanya murni dan tampak mata rebon kecil-kecil.
Ditambahkan, terasi yang tanpa pewarna akan terlihat coklat gelap. Berbeda dengan yang telah diberi pewarna karena tampak kemerahan. Kendati begitu, kualitas dan keamanan pangan menjadi keutamaan demi kepuasan pelanggan.
“Mengapa kami jaga kualitas, karena kami juga menikmati sendiri. Masak dinikmati sendiri, dicampuri pengawet atau apa. Kita meracuni diri sendiri. Kita tidak pernah pakai pengawet atau lainnya,” katanya.
Jovid membeberkan harga jual terasinya. Untuk ukuran enam ons dipatok harga Rp25 ribu, ukuran tiga ons Rp12 ribu. Mengingat terbuat dari rebon asli dan diolah dengan cara yang benar, terasi buatan Jovid bisa bertahan lebih dari satu tahun.
“Karena murni, enggak ada campuran. Kalau terasi dalam pembuatannya dicampur ikan dan bahan lain itu akan gampang busuk dan cepat berjamur dan lunak. Baunya juga berbeda dibanding terasi asli. Kalau terasi dari rebon tanpa campuran itu berbau segar,” tambahnya.
Diakui, biasanya wisatawan yang berkunjung ke Pantai Putih Wates mampir ke tempatnya untuk beli terasi. Pesanan pun berdatangan, termasuk dari luar kota. Dia berharap usaha terasi yang digeluti sekitar 20 orang di wilayahnya, dapat terus berkembang. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)