SEMARANG – Masih ingat dengan pemberitaan orang tua yang menganiaya anaknya hanya karena anaknya tidak mau belajar sendiri di rumah? Atau, justru Anda sendiri selaku orangtua yang terkadang jengkel dan merasa tidak sanggup mengajar dan mendampingi anaknya sekolah daring?
Berbagai hal mengenai pembelajaran jarak jauh, kembali dibahas Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo dalam siaran langsung Instagram melalui akunnya @atikoh.s, Kamis (1/10/2020). Kali ini berdasarkan sudut pandang dokter spesialis anak Lidya Diah Wulandari Sidharta dari RS Columbia Asia Semarang.
Menurut Lidya, saat ini pembelajaran jarak jauh masih menjadi yang terbaik, untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, memang dibutuhkan kerja sama yang baik antara orangtua dan guru, termasuk kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi sekarang.
Diakui, sejumlah orangtua merasa kewalahan mendapatkan beban pekerjaan rumah atau tugas sekolah anak. Apalagi, jika kedua orangtua bekerja, sehingga waktu untuk menemani anaknya hanya pada malam hari. Dalam hal ini, mereka bisa meminta keringanan dari pihak sekolah, untuk bisa mengirimkan tugas pada malam hari, atau keesokan harinya.
“Ibu perlu ektrakeras menjadi guru, namun tetap menjadi ibu, dan tetap mendampingi. Kalau orangtuanya pulang malam terus, tidak bisa mendampingi, terpaksa ‘call a friend’, minta tolong orang lain untuk membantu anak-anak, tapi jangan diserahkan seluruhnya. Jika merasa stress karena terbebani, konsultasikan kepada psikiater, orang terdekat, atau kepada tokoh agama,” ujarnya.
Kendati begitu, pembelajaran jarak jauh memiliki dampak positif. Orangtua menjadi lebih dekat dengan anak dan memahami kejiwaannya. Jadikan waktu bersama anak untuk menjadi pendengar, mengajak anak bermain, bercerita, dan kebersamaan lain. Artinya, saat di rumah, orangtua memiliki waktu penuh untuk anak-anak, agar anak faham jika aktivitas di luar untuk bekerja.
Bagaimana menyiasati anak yang malas belajar? Lidya mengingatkan, orangtua mestinya menyadari jika terkadang belajar membosankan. Untuk itu, tidak ada salahnya jika sekali-sekali anak diberi kelonggaran dalam belajar.
“Tidak perlu dipaksa karena anak bisa stress. Apalagi sampai melakukan kekerasan pada anak. Orangtua yang mengetahui anak, memiliki teknik pendekatan yang berbeda-beda. Kesehatan jiwa harus diperhatikan, misalnya mengajak anak-anak berdoa bersama. Jika orangtua bosan, boleh bepergian tapi tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Tapi, untuk anak kurang dari dua tahun, sebaiknya jangan dibawa ke mana-mana,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Jateng Atikoh Ganjar Pranowo. Menurutnya, anak adalah amanah, titipan dari Tuhan. Berterimakasihlah atas kepercayaan yang diberikan Tuhan, sehingga, jangan lakukan kekerasan atau tindak intimidatif pada anak.
Dia mengatakan, pembelajaran jarak jauh hendaknya benar-benar dimanfaatkan orang tua untuk lebih dekat dengan anaknya. Namun, perlu diperhatikan, saat pulang ke rumah, orangtua harus membersihkan diri sesuai protokol kesehatan, sehingga tidak menjadi pembawa virus.
“Kualitas waktu belajarnya bisa lebih diperhatikan. Jangan lakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), karena kita lagi diuji kesabarannya. Cara paling gampang dan efektif, perbanyak doa. Allah tidak akan memberi ujian yang melampaui kemampuan umatnya,” kata Atikoh. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)

