SEMARANG – Bunda Generasi Berencana (Genre) Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo berharap Duta Genre Jateng juga menjadi duta penegakan protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19) di masa pandemi ini. Sebab saat ini, masih ditemukan banyak remaja yang belum taat protokol kesehatan sebagai pencegahan penularan Covid-19.

 

Duta Genre Jateng itu adalah Vandika Febrian Maulana dari Kota Semarang, dan Bella Yusvika Diana M dari Kabupaten Jepara. Keduanya hadir di siaran langsung Instagram bertema Aksi Keren Anak Muda Indonesia, melalui Bincang Genre Spesial Hari Remaja Internasional, dengan akun @genre_jateng bersama Atikoh melalui akun @atikoh.s, Kamis (3/9/2020).

 

“Selain jadi Duta Genre, juga jadi duta protokol kesehatan untuk remaja. Sebab, remaja banyak yang menyepelekan protokol kesehatan,” kata Atikoh kepada Vandika dan Bella.

 

Atikoh menilai Duta Genre merupakan sosok yang tepat menyosialisasikan pentingnya protokol kesehatan kepada kalangan remaja di masa pandemi Covid-19. Pasalnya, para remaja memiliki kecenderungan berbaur kemudian abai protokol kesehatan, terutama setiap kali bertemu dengan temannya.

 

Seperti halnya bila nanti sekolah mereka mulai melakukan pembelajaran secara tatap muka. Oleh karena itu, hendaknya ditanyakan lebih dulu sejauh mana kesiapan anak bersekolah dengan menerapkan protokol kesehatan.

 

“Jangan sampai sekolah jadi klaster baru. Kita terus melakukan persiapan sekolah. Juga bertahap. Sekolahnya juga akan bergilir,” ujarnya.

 

Sementara itu, menurut Duta Genre Bella, remaja memang seharusnya bisa menerapkan protokol kesehatan. Termasuk nanti saat bertemu, hendaknya tidak usah melakukan aktivitas yang berpotensi menularkan virus.

 

Nggak usah cipika-cipiki (cium pipi kanan dan cium pipi kiri),” kata mahasiswi semester VII Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang ini.

 

Perempuan muda ini prihatin pula dengan maraknya pernikahan dini atau menikah di kalangan remaja. Terutama di masa pandemi. Maraknya pernikahan di usia belum matang ini banyak ditemui di desa-desa. Seperti di daerah asalnya, Kabupaten Jepara, di mana dari survey yang dilakukan, kecenderungan pernikahan muda disebabkan lingkungan dan faktor orang tua. Faktor lingkungan karena mereka takut dikira tidak laku, dan faktor orang tua yang justru mendorong anaknya menikah muda agar tidak lagi membebani keluarga.

 

Oleh karena itu, dirinya gencar melakukan sosialisasi agar tidak terjadi pernikahan di usia yang belum matang. Seperti halnya dengan mendorong mereka membuka lapangan kerja dengan berwirausaha. Mengingat kemandirian ekonomi merupakan hal penting.

 

“Sebagai remaja, hendaknya sudah siap membuka lapangan kerja,” ungkap Bella.

 

Duta Genre Jateng lain, Vandika mengatakan, saat ini di masa pandemi memang marak anggapan pernikahan menjadi solusi saat kondisi sulit seperti sekarang.

 

“Karena ekonominya turun, mereka menganggap mungkin lebih baik menikah saja,” kata Vandika membeberkan anggapan lebih baik menikah yang ramai di media sosial beberapa waktu belakangan.

 

Siswa SMA Negeri 5 Kota Semarang ini menekankan, menikah di usia remaja bukanlah solusi. Mengingat usianya belumlah matang. Menurutnya, umur ideal untuk menikah bagi perempuan, yakni 21 tahun atau lebih. Sebab bila di bawah usia tersebut dikhawatirkan berisiko pada kesehatannya. Sementara, umur ideal laki-laki untuk menikah yakni di angka 25 tahun, karena dinilai sudah matang dan dapat berpikir secara dewasa.

 

“Menikah di usia matang itu keren,” ucapnya. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)