SEMARANG – Meski pandemi Covid-19, sektor pertanian di Jawa Tengah masih aman. Namun, petani dan peternak diminta mengembangkan inovasi, guna beradaptasi dengan kondisi wabah yang mengharuskan orang-orang tak banyak di luar rumah.
Hal itu disampaikan Gubernur JawaTengah Ganjar Pranowo, saat memimpin rapat terkait Rencana Aksi Pangan, di aula Dinas Pertanian dan Perkebunan, Kompleks Taru Budaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (5/6/2020). Rapat juga dihadiri OPD terkait, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Ganjar mengatakan, secara garis besar, selama Covid-19 kondisi sektor pangan di Jawa Tengah masih aman. Namun, pihaknya terus berupaya mencari solusi memasarkan produk pertanian di masa wabah. Sebab, beberapa komoditas pertanian terimbas dengan turunnya permintaan akibat Covid-19, seperti, penjualan jagung dan ekspor kopi. Di sisi lain, produk sayuran dan turunannya justru masih diminati pasar luar negeri.
“Ternyata produk hortikultura mengalami kenaikan. Tadi ada pengusaha sayur hidroponik yang mencatatkan kenaikan sampai 300 persen. Caranya dengan berdagang online, yang kemudian menyerap tenaga kerja,” paparnya.
Gubernur juga menginstruksikan kepada jajarannya, melakukan pencarian lahan untuk penanaman bawang putih. Menurutnya, Jateng masih membutuhkan tambahan 8.000 hektare lahan untuk penanaman bawang putih. Karenanya, inventarisasi lahan untuk memenuhi kebutuhan bawang di Jateng mesti dilakukan.
Di sektor perikanan, Ganjar menyatakan akan ada inovasi-inovasi menyiasati turunnya serapan ikan, di antaranya, mengemas ikan bandeng dalam bentuk kalengan. Selain itu, akan ada bantuan bahan bakar minyak bersubsidi bagi nelayan. Hal tersebut mengingat 70 persen biaya operasional digunakan untuk membeli BBM.
Diungkapkan, berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, sekitar 13.672 nelayan gurem terdampak. Harga ikan tangkapan juga menurun. Sebagai solusi, pemprov akan memberikan bantuan BBM kepada nelayan kecil terdampak Covid-19 secara bertahap. Pemberian bantuan tersebut diberikan mulai medio 2020 hingga Januari 2021.
Di sektor ekspor perikanan, jelas gubernur, Jateng mencatatkan perbaikan volume perdagangan luar negeri. Pada 2020 kuantitasnya mencapai 22.379 ton hingga akhir Mei. Pada periode yang sama tahun lalu, volume ekspor hanya 20.337 ton.
“Untuk sektor peternakan, kita bantu untuk menyerap telur yang kemudian kita berikan untuk jaring pengaman sosial. Sementara untuk peternak kerbau dan lainnya, permintaannya jaminan pakan. Nah solusinya bisa membuat koperasi dan membikin pabrik mini pakan ternak yang ditangani dengan benar. Anggaran disiapkan agar ekonomi (peternak) bisa bergulir,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Suryo Banendro menyebut, produksi petani Jateng cukup menggembirakan. Itu terbukti dari panen raya padi yang menghasilkan hingga satu juta ton gabah kering giling. Sementara, tingkat konsumsi warga Jateng hanya sekitar 200 ton per bulan.
“Saya sampai ditelpon dari daerah lain untuk meminta pasokan 300-500 ton. Kita masih bisa suport daerah lain. Selain itu, permintaan ekspor nanas, terong ungu dan rosela ke luar negeri cukup banyak di tengah pandemi seperti ini,” kata dia.
Namun demikian, ia mengimbau agar petani di Jateng tak memaksakan menanam padi jelang musim kemarau. Ia menyarankan, palawija sebagai tanaman pengganti.
“Kacang hijau misalnya, harga di petani bisa sampai Rp12 ribu per kilogram. Kita produksi terbanyak. Sehingga kemarin petani di Purworejo berganti menanam komoditas itu, begitu mengetahui harganya tinggi,” pungkas Suryo. (Pd/Ul, Diskominfo Jateng)

