SEMARANG – Penyandang tunanetra di Jawa Tengah amat terbantu, dengan adanya inovasi yang dilakukan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Penganthi Temanggung, yakni berupa Rompi Penganthi. Rompi ini memudahkan penyandang tunanetra saat beraktivitas.
Rompi Penganthi dibuat salah satu pengurus panti, Purwadi, untuk membantu para penyandang tunanetra. Rompi dilengkapi berbagai alat sensor yang berfungsi untuk memberikan tanda kepada si pemakainya serta lampu. Sehingga penyandang tunanetra bisa lebih aman. Sensor akan berbunyi saat di depan atau di sekitarnya terdapat hal bahaya, seperti lubang, air, dan lainnya.
Salah satunya disampaikan seorang penyandang tunanetra, Sumarno. Menurut dia, keberadaan Rompi Penganthi amat mendukung aktivitasnya.
“Sangat mendukung sekali (Rompi Penganthi),” kata warga yang juga penerima manfaat Rompi Penganthi, ditemui usai pemaparan inovasi pelayanan publik di kantor Gubernur Jateng, Selasa (7/7/2020).
Sumarno mengaku, dengan mengenakan Rompi Penganthi, dia lebih percaya diri karena masyarakat umum bisa lebih cepat mengidentifikasi adanya penyandang tunanetra. Diakuinya, dengan mengenakan Rompi Penganthi, penyandang tunanetra tak perlu banyak membutuhkan tenaga pendamping. Mereka cukup mengawasi.
Warga Gandrungmangu, Cilacap ini mengaku sudah hampir setahun mengenakan Rompi Penganthi. Dia membeberkan pengalamannya, dulu sebelum mengenakan rompi, hanya memakai tongkat penuntun saja. Setelah mengenakan rompi, dirinya merasa terbantu. Seperti saat hendak menyeberang jalan, di fasilitas umum, pasar, dan lainnya.
“Orang bisa tahu,” tambahnya.
Inisiator Rompi Penganthi yang juga anggota Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Penganthi Temanggung, Purwadi mengungkapkan, alat ini memungkinkan untuk dikembangkan. Sejauh ini ada beberapa sensor yang dipakai pada rompi. Seperti sensor jarak, sensor air, sensor jarak, serta lampu. Rencana pengembangannya, rompi akan ditambahkan sensor suara, getar, dan sensor lainnya.
Dia menambahkan, rompi ini memiliki kepekaan di peraba, dan pendengaran. Menurutnya, alat ini sangat bermanfaat. Sebab pengurus pantinya memiliki tagline, datang diantar, pulang harus mandiri. Dengan tagline itu, kemandirian mutlak menjadi tujuan pengurus panti.
Saat ini rompi sudah dipakai oleh seluruh penerima manfaat di pantinya, serta pengurus lain dari Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Alat itu sudah diproduksi mulai 2019. Setelah sebelumnya 2018 selesai melakukan analisa permasalahan.
Kepala Dinsos Jateng Harso Susilo mengatakan, Panti Penganthi merupakan salah satu panti yang dikelola pemerintah provinsi. Menurutnya, dari beberapa penelitian, penggunaan rompi ini membuat tingkat keamanan penyandang tunanetra menjadi meningkat.
“Ini sudah dibuktikan dengan sebelum dan sesudahnya, ini memang cedera semakin turun,” kata Harso.
Selain itu pula, kata dia, dengan rompi itu juga bisa meningkatkan produktif penyandang tunanetra. Seperti saat dipakai tukang pijat tunanetra ketika akan menjalankan tugas, dengan mengenakan rompi akan membuat pendapatan mereka naik. Tantangan ke depan yaitu akan adanya rencana pemroduksian Rompi Penganthi secara massal.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga menilai Rompi Penganthi merupakan inovasi yang amat membantu para penyandang tunanetra.
“Penyandang tunanetra bisa aman saat pakai Rompi Penganthi,” ujarnya. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)
