SEMARANG – Kerja arsip bukan berarti selalu berurusan dengan kertas. Namun, justru merupakan bentuk layanan kepada masyarakat menyangkut kearsipan.

“Kerja arsip itu bukan gawean ora cetha, sing urusane antara kertas, sawan (sarang laba-laba), dan tikus. Berimprovisasilah terus dan jangan pernah merasa sempurna. Terus berinovasi dan saling menyempurnakan,” kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, saat memberikan arahan kepada seluruh karyawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Jateng, Senin (13/1/2020).

Ganjar juga meminta Dinas Arpus menggandeng komunitas untuk membuat konten sosial media dengan kreasi milenial. Misalnya membuat game, memberikan pertanyaan ‘sebutkan empat judul buku baru’, atau ‘sudah membaca berapa judul buku hari ini?’ dengan hadiah pulsa.

“Kerja sama dengan komunitas itu untuk mencari format bagaimana meningkatkan minat baca dan menghidupkan perpustakaan. Berprinsiplah panjenengan ada itu karena dibutuhkan. Harus kompak, berinovasi, from nothing to something. Buka mindset-nya,” tandas Ganjar.

Sementara itu, Dinas Arpus Jateng telah melakukan terobosan baru untuk mempermudah pelayanan bagi masyarakat. Yakni dengan meluncurkan aplikasi berbasis android, iJateng dan Arsip Emas (Arsip Elektronik Masyarakat).

Aplikasi iJateng dilaunching 18 Juli 2017 lalu untuk mempermudah masyarakat mendapatkan pelayanan literasi. Artinya, masyarakat dapat mengakses buku-buku bacaan melalui aplikasi tersebut.

Sedangkan Arsip Emas bermanfaat untuk ruang penyimpanan arsip pribadi masyarakat berbasis aplikasi. Jadi, arsip penting dapat disimpan dan hanya bisa diakses secara pribadi.

Kepala Dinas Arpus Pemprov Jateng Prijo Anggoro menuturkan, kedua aplikasi tersebut merupakan inovasi dari Dinas Arpus Jateng guna memberikan kemudahan bagi masyarakat.

“Kedua aplikasi ini dapat di-download di Google Play Store. Ini adalah inovasi dari Dinas Arpus dalam menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat saat ini,” ujar Prijo.

Menurutnya, iJateng selain mempermudah akses literasi bagi masyarakat juga untuk meningkatkan kesadaran membaca. Bukan hanya lewat aplikasi, kenyamanan mengakses buku juga akan dikembangkan di perpustakaan. Artinya, masyarakat juga dapat tertarik untuk datang ke perpustakaan.

“Jadi, masyarakat bisa membaca buku yang diinginkan hanya lewat aplikasi. Buku-buku baru juga ada. Mimpi saya ke depannya aplikasi akan mengungkit kunjungan ke perpustakaan. Jadi perpustakaan menjadi semacam tempat wisata. Ya, baca buku, diskusi sembari seperti nongkrong,” imbuh Prijo. (Humas Jateng)